Desa Petuntawa terletak di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Desa ini menghadap langsung ke Teluk Lewoleba di sisi barat, diapit Desa Waowala di utara, Desa Riangbao di selatan, dan lereng Gunung Ile Lewotolok di sisi timur. Luas wilayahnya mencapai 24 kilometer persegi, dengan 8 hektar kawasan pantai dan 7 hektar hutan mangrove yang menjadi penyangga ekologi utama desa.
Secara administratif, Petuntawa terbagi dalam 4 dusun dan 8 rukun tetangga, dihuni 496 jiwa, yakni 208 laki-laki dan 288 perempuan, yang tergabung dalam 160 kepala keluarga. Dari jumlah itu, 131 kepala keluarga berprofesi sebagai petani, 12 kepala keluarga sebagai nelayan, dan 17 sisanya mencari nafkah dari perdagangan, PNS, dan sektor swasta.
Sejarah Petuntawa bermula jauh sebelum desa ini punya nama. Di Pulau Seram, dalam rumpun suku Langodai, terjadi perselisihan antara kakak dan adik karena sesuatu yang sederhana, yaitu rebutan tali pancing. Sang kakak, Legu Ramang, memilih pergi daripada bertengkar lebih jauh.
Ia berlayar meninggalkan Seram menggunakan perahu yang terbuat dari petung (rakit bambu) dengan layar dari koli (daun lontar), menempuh perjalanan panjang melintasi laut menuju Pulau Lomblen, nama lama Lembata. Persinggahan pertamanya di Lepanbatan, sebelum akhirnya tiba di Kampung Lewotolok, disambut oleh Tuantana dari suku Lamataro dan suku Ladopurap.
Namun ketenangan tidak bertahan lama. Di Lewotolok, suku Langodai kembali berseteru, kali ini dengan suku Langobelen, memperebutkan jabatan Belen Raya (pemimpin kampung). Karena suku Langodai mengklaim garis keturunan raja dari Seram, persaingan memanas. Penyelesaiannya unik yaitu undian menarik bambu bercabang dari puncak gunung ke pantai, siapa duluan tiba di pantai dialah yang berhak menjadi raja. Suku Langobelen menang. Legu Ramang kalah.
Tak mau tunduk pada keputusan yang dirasakannya tidak adil, Legu Ramang berpindah lagi. Kali ini ia menetap di Petun Ebang, kampung lama yang menjadi embrio Desa Petuntawa. Di sanalah ia membangun kehidupan baru dan menurunkan tiga anak laki-laki: Lasan Leguramang (sulung), Holo Lasan Aman (anak kedua), dan Boli Lasan Aman (anak ketiga). Ketiganya menjadi tiang awal genealogi masyarakat Petuntawa.
Penduduk desa ini memiliki dua akar besar: sebagian berasal dari Kampung Lewotolok dan sebagian dari Lewohala, keduanya bersatu dalam satu rumpun besar yang disebut Nuba Nara.
Setelah bertahun-tahun menetap di Petun Ebang, masyarakat turun ke pesisir dan menetap di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Riangbao. Pada 1915, seorang temukung pertama diangkat bernama Loman Langodai. Tiga tahun kemudian, Riangbao resmi berdiri sebagai kampung tersendiri, dipimpin berturut-turut oleh Ua Goran Langodai (1923–1947), Salem Semara Langodai (1947–1963), hingga Yohanes Baran (1963–1967).
Pada 1967, Riangbao dimekarkan menjadi dua wilayah yaitu Riangbao dan Kalimas. Namun tak lama, keduanya kembali bersatu dalam satu entitas baru bernama Desa Petuntawa pada 1968, di bawah kepemimpinan Musa Tupen Langodai. Desa Petuntawa resmi berdiri pada 1970, dan diperkuat secara legal oleh Surat Keputusan Gubernur NTT No.12/Pem.66/1/10/1971 yang menempatkannya di bawah koordinasi Kecamatan Ile Ape.
Hingga kini, desa ini telah dipimpin oleh 8 kepala desa, dengan Wilhelmus T. Langoday menjabat sejak 2016.
Warga Petuntawa menggantungkan hidup pada pertanian lahan kering, peternakan sapi dan kambing, serta laut. Yang menonjol adalah penangkaran rumput laut seluas 2 hektar yang dikelola kelompok nelayan, salah satu sumber pendapatan tetap yang potensial, bersama tiga kelompok nelayan aktif yang beroperasi di perairan Teluk Lewoleba.
Petuntawa adalah desa yang dibangun oleh orang-orang yang menolak menyerah, dari Seram hingga Lembata, dari puncak gunung hingga tepi laut.