Profil Desa Dulitukan
Desa Dulitukan terletak di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Posisinya strategis sekaligus dramatis, diapit dua perairan besar yaitu Laut Flores di sisi utara dan Teluk Lewoleba di sisi selatan, sementara di timur berbatasan dengan Desa Tagawiti dan Desa Beutaran, dan di barat dengan Desa Palilolon serta Desa Kolipadan. Luas wilayahnya mencapai 12,07 kilometer persegi, dengan 50 hektar kawasan pantai, 20 hektar hutan mangrove, dan lahan pertanian produktif seluas 580 hektar.
Desa ini dihuni 1.033 jiwa, terdiri dari 480 laki-laki dan 553 perempuan, yang terbagi dalam 375 kepala keluarga. Mayoritas warga, sebanyak 262 kepala keluarga, menggantungkan hidup sebagai petani. Sementara 9 kepala keluarga berprofesi sebagai nelayan dan 104 kepala keluarga bergerak di sektor lain seperti perdagangan, PNS, dan swasta. Dari sisi agama, pemeluk Katolik mendominasi dengan 686 jiwa, disusul Islam 326 jiwa, dan Protestan 5 jiwa, sebuah keragaman yang hidup berdampingan dalam satu komunitas.
Secara administratif, Dulitukan terbagi dalam 4 dusun yaitu Jaga Nuba, Jaga Ribu, Beling Lewun, dan Peten Lewo, masing-masing membawahi 4 rukun tetangga sehingga total ada 16 rukun tetangga di seluruh desa.
Sejarah Dulitukan berakar pada tahun 1918, ketika sekelompok orang berangkat dari kaki Gunung Ile Ape, dari sebuah tempat bernama Lewulun Ebaken, bergerak menuju arah barat laut. Perjalanan itu membawa mereka tiba di suatu lokasi yang kemudian diberi nama Tobiwutung.
Dari Tobiwutung inilah, cikal bakal lima desa di wilayah Tanjung Ile Ape mulai tumbuh dan berkembang. Permukiman yang bermula dari Tobiwutung itu kemudian berganti nama menjadi Lewobelen, sebelum akhirnya berkembang menjadi desa gaya baru yang dikenal sampai hari ini dengan nama Desa Dulitukan. Sebuah perjalanan panjang dari kaki gunung menuju pesisir, dari kampung tua menuju desa modern.
Dulitukan bukan sekadar desa dengan sawah dan laut. Ia adalah desa yang napasnya adalah ritual adat. Kehidupan sosial masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Beberapa ritual yang masih hidup dan dijaga antara lain Pelating Baya, Lou Bao, dan Lok Nun Mayangen.
Yang paling istimewa adalah tradisi Buka Badu, sebuah warisan leluhur yang sempat lama ditinggalkan, kemudian dihidupkan kembali melalui gelaran Expo Budaya yang diselenggarakan Pemda Lembata, dengan Dulitukan menjadi salah satu titik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kebangkitan Buka Badu bukan sekadar nostalgia, ia adalah pengakuan bahwa identitas budaya Dulitukan layak untuk dijaga dan ditawarkan sebagai destinasi wisata budaya yang nyata.
Pertanian lahan kering menjadi tulang punggung ekonomi warga, dengan hasil utama berupa jagung, kacang tanah, dan kacang hijau. Namun para petani Dulitukan kerap menghadapi tantangan serius yaitu curah hujan yang tidak menentu dan musim panas berkepanjangan yang berulang kali membayangi kegagalan panen.
Di sisi lain, potensi laut Dulitukan justru masih jauh dari optimal. Padahal satu sisi wilayah desa langsung berbatasan dengan laut, dengan tiga kelompok nelayan yang beroperasi sebagai mata pencaharian tambahan, bukan utama. Potensi ini menunggu untuk digarap lebih serius.
Hal yang sama berlaku pada sektor pariwisata. Dengan ritual Buka Badu yang kini kembali hadir, hutan mangrove yang masih terjaga, serta pantai yang menghadap Laut Flores, Dulitukan sesungguhnya menyimpan daya tarik yang belum tersentuh sedikitpun sebagai destinasi wisata. Dulitukan adalah desa yang tahu dari mana ia berasal, dan kini perlahan mulai menyadari ke mana ia bisa melangkah.