Mode Tampilan:
Menu
Desa Laranwutun
Laranwutun, Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT

Desa Laranwutun

Profil Desa Laranwutun 

Desa Laranwutun berdiri di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sebuah desa kecil di kaki Gunung Ile Lewotolok yang menghadap langsung ke laut. Wilayahnya mencapai 2.840 hektar, dengan 35 hektar berupa kawasan pantai dan 28 hektar hutan mangrove yang menjadi aset ekologi paling berharga yang dimiliki desa ini.

Desa ini dihuni 1.269 jiwa yang terbagi dalam 374 kepala keluarga, tersebar di 4 dusun dan 16 rukun tetangga. Mayoritas warga hidup sebagai petani, 243 kepala keluarga bergantung pada lahan dan kebun, sementara sebagian kecil berprofesi sebagai nelayan, pedagang, PNS, dan wiraswasta.

Akar Sejarah: Perang, Darah, dan Perdamaian

Sejarah Laranwutun tidak dimulai dari ketenangan. Ia lahir dari abu konflik panjang yang dikenal sebagai Perang Paji dan Demon, dua kubu besar yang bertarung habis-habisan di tanah Ile Lewotolok, menelan korban dari kedua pihak tanpa ampun.

Masyarakat yang kelak menjadi cikal bakal Desa Laranwutun berasal dari dua entitas besar: suku asli Tana Tawa Ekan Gere dan komunitas pendatang dari Kepulauan Maluku yang dikenal sebagai Seram Goran Abo Muar. Dua kekuatan ini bersatu, membentuk Kampung Adat Lewohala yang merupakan induk peradaban dari delapan desa modern yang ada di kawasan ini, termasuk Laranwutun.Pasca perang, para tetua adat menggelar upacara besar penebusan tanah berdarah: tewu tana Sira paji hode ekan laga doni. Pusaka adat diserahkan ke wilayah lain sebagai tanda perdamaian, dan babak baru peradaban resmi dimulai.

Dalam perjalanan waktu, sebagian warga diutus turun dari kampung adat menuju dataran lebih rendah, sebuah gerakan yang disebut ola duli lali tua puke man one, untuk bercocok tanam dan menguasai tanah baru. Komunitas Laranwutun pada masa itu menetap di lokasi bernama Wutun Riang One, bersama dengan cikal bakal masyarakat Desa Muruona.

Permukiman kemudian dipindahkan ke lokasi saat ini atas perintah Raja Arkian Kamba dari Kerajaan Adonara (berkuasa antara 1893 –1930). Pertimbangannya sederhana tapi strategis: lokasi Wutun Riang One terlalu jauh dari pantai, 34 kilometer jauhnya. Pemimpin kampung pertama, Hada Nilai dari suku Atanila, ditunjuk untuk meletakkan Lewu Kepuhur (pusar kampung) di lokasi baru yang kini menjadi pusat Desa Laranwutun.Tanda berakhirnya perang antara Paji dan Demon diresmikan dengan ritual Lela Nuho Padju Sabok, pemancangan bendera putih oleh Kerajaan Adonara. Upacara perdamaian ini dilakukan di Lewu Kepuhur Desa Laranwutun yang hingga hari ini masih berdiri dan disakralkan oleh warga.

Desa yang Hidup dari Alam

Sumber daya alam menjadi tulang punggung kehidupan warga: pertanian lahan kering, peternakan kambing dan sapi, tambang batu merah, serta yang paling menjanjikan adalah kawasan mangrove dan wisata pantai. Kaum muda desa mulai mengorganisir diri dalam kelompok budidaya mangrove dan pengelolaan wisata pantai, mencari nafkah tambahan dari potensi ekologi yang selama ini belum tersentuh secara serius.Laranwutun bukan sekadar desa biasa. Ia adalah warisan hidup dari dua suku yang pernah berperang, berdamai, lalu membangun kehidupan bersama di atas tanah yang mereka pertahankan dengan nyawa.

Biografi

Aktor Konservasi Desa Laranwutun