Mode Tampilan:
Menu
Desa Riangbao
Riangbao, Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT

Desa Riangbao

Profil Desa Riangbao

Desa Riangbao terletak di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Desa ini berbatasan dengan Desa Petuntawa di utara, Desa Kolontobo di selatan, Gunung Ile Ape di timur, dan Teluk Lewoleba di sisi barat. Luas wilayahnya mencapai 6,21 kilometer persegi, dengan kawasan pantai seluas 550 meter persegi, hutan mangrove 100 meter persegi, dan lahan pertanian produktif seluas 110 hektar.

Secara demografis, Riangbao dihuni 555 jiwa, yakni 279 laki-laki dan 276 perempuan, yang terbagi dalam 148 kepala keluarga. Mata pencaharian warga cukup beragam: 65 kepala keluarga sebagai petani, 5 kepala keluarga sebagai nelayan, dan 78 kepala keluarga dari sektor lain seperti perdagangan, PNS, dan swasta. Dari sisi agama, desa ini dihuni oleh pemeluk Islam sebanyak 356 jiwa dan Katolik 201 jiwa, sebuah komposisi yang mencerminkan keragaman yang hidup berdampingan secara harmonis.

Sejarah: Anak Kandung Petuntawa yang Berdiri Sendiri

Riangbao bukan desa yang lahir dari tanah kosong. Ia adalah anak kandung dari Desa Petuntawa, yang sejak lama telah menjadi bagian integral dari komunitas tersebut sebelum akhirnya memisahkan diri menjadi entitas mandiri.

Proses itu tidak terjadi seketika. Riangbao melewati beberapa tahapan perkembangan panjang sebelum akhirnya resmi berstatus desa definitif pada tahun 2012. Di tahun yang sama, Bapak Paskalis Pelira ditunjuk sebagai Pejabat Kepala Desa pertama, menjabat selama satu tahun anggaran hingga 2013. Selanjutnya Bapak Albertus Pelira Lewokedang memimpin satu periode penuh dari 2013 hingga 2019, dilanjutkan oleh Bapak Kornelis Kewaman, S.Sos sebagai penjabat dari 2019 sampai 2021. Kepemimpinan saat ini dipegang oleh Bapak Abdul Rahman Kusyadi Langoday, S.Pd, Kepala Desa definitif periode 2021 hingga 2027.

Akar Budaya: Lewu Alawe dan Kekuatan Antar Suku

Penduduk asli Riangbao berasal dari Seram Goran, bersama komunitas yang datang dari Petuntawa dan para PNS yang kemudian menetap, semuanya terhimpun dalam satu rumpun besar yang disebut Belaong Gopak.

Yang membuat Riangbao istimewa adalah kuatnya ikatan sosial antar suku yang telah terjalin sejak lama. Desa ini dihuni oleh komunitas dari berbagai suku: suku Langoday sebagai Lewu Alawe atau Tuan Tanah, bersama suku Benimaking Watukepethi (Atakewina), Lewokedang, Making Irak Wutun, Making Suku Tilu, dan Lemanuk. Kesemuanya membangun kehidupan bersama dengan solidaritas yang telah teruji sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang hingga Indonesia merdeka.

Hubungan antar suku ini bukan sekadar toleransi biasa. Ada filosofi yang menggerakkannya yaitu posisi Lewutanah Alawe yang dipegang suku Langoday diibaratkan seperti singgasana raja, sementara suku Atakewina beserta suku lainnya berperan sebagai prajurit penjaga singgasana itu. Perpaduan peran inilah yang melahirkan kekuatan sosial Riangbao yang sulit ditandingi hingga hari ini.

Laut, Tanah, dan Ritual yang Menjaga Keseimbangan

Kehidupan ekonomi warga Riangbao bertumpu pada dua pilar yaitu laut dan pertanian. Di laut, tiga kelompok nelayan aktif menjalankan penangkapan ikan secara tradisional, sementara satu kelompok konservasi mengelola penangkaran rumput laut seluas 3 hektar sebagai sumber pendapatan tetap yang terus berkembang.

Yang unik dari Riangbao adalah tradisi yang menyertai setiap proses penangkapan ikan. Sebelum nelayan turun ke laut, warga terlebih dahulu menggelar ritual adat setelah pesta kacang di kampung adat Gunung Ile Ape. Kalender musim dan pasang surut air laut diperhitungkan dengan saksama, dipandu oleh para tetua adat yang dipercayakan secara turun-temurun. Ritual ini terbuka untuk semua orang tanpa batas jumlah maupun asal, sebuah tradisi inklusif yang memperkuat rasa memiliki bersama terhadap laut dan alam. Riangbao adalah desa yang kecil dalam ukuran wilayah, namun besar dalam kekuatan budaya dan kerukunan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Biografi

Aktor Konservasi Desa Riangbao